SINOPSIS
BUKU CATATAN ALIT
3 kata yang menjadi rujukan tentang Alit 25 tahun adalah seorang pemuda yang memiliki misi besar untuk sebuah ketentraman dunia di dalam latar tahun 20550an. Walaupun memiliki pemikiran yang tidak mudah dipahami oleh banyak orang, tetapi ia bukan orang asing yang anti sosial. Ia yang tumbuh sebagai seorang pemuda yang tidak menyukai keramaian, dan lebih merasa mempunyai teman saat sedang sendiri itu justru ingin menjadi orang yang dapat mengembalikan kebenaran dan keadilan pada tempatnya. Luka-luka yang didapatkannya selama dalam perjalanan hidupnya hanya dianggapnya sebagai hiasan mimpi belaka. Teka-teki dalam keluarga, kejadian buruk yang hampir saja membuatnya kehilangan sebagian memori dan rasa percaya dirinya, serta kehilangan orang-orang yang paling dikasihinya telah menjadi titik balik dalam hidupnya dari anak yang cerdas dan ceria, menjadi pemuda yang lebih senang berteman dengan kesunyian.
Namun, dengan demikian, tidak lantas membuatnya menyerah dengan keadaan. Kanyataan pahit yang membuatnya kemudian menjadi sebatang kara, semakin mendorongnya untuk mendedikasikan sisa hidupnya untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi semua orang. Menjadi anggota barisan laskar pembela kebenaran dari timur yang bernama “Barisan 313” dan menjadi pimpinan utama sebuah komunitas rintisan keluarga “Tekno Bugar Comunity”.
Di samping itu, pola asuh yang penuh kedisiplinan dalam keluarga telah membarikan kontribusi terbesar dalam menjalani kehidupan yang tidak mudah. Dengan kecerdasan verbalnya yaang masih tersisa, ia menuliskan gagasannya dalam beberapa buku dengan pola yang beragam. Ini mmenunjukkan bahwa diam dalam kesunyian bukan berarti tidak berbuat sama sekali, melainkan sedang menyusun sebuah kekuatan yang besar. Hingga semua orang menyadari baahwa apa yang terlihat belum tentu sama dengan apa yang sebenarnya terjadi. Nyatanya buku catatannya ini telah mampu memprtemukan kluarganya yang telah bertahun-tahun tercerai berai karena sebuah penghianatan dari masa lalu.
Walaupun pada akhirnya ia harus menerima takdirnya, tetapi ia merasa bahagia karena buku-buku yang ditinggalkannya akan menjadi saksi yang memberi tahukan pada dunia bahwa orang seperti dirinya pernah hadir dalam sebuah fase kehidupan yang mendekati akhir zaman ini.