judul: “Kesejahteraan Psikologis Siswa” Dengan Konteks Sebagai Santri Pondok Pesantren di Indonesia
Penulis: Dr. Elok Halimatus Sa’diyah, M.Si
Selly Candra Ayu, M.Si
Agus Iqbal Hawabi, M.Psi., Psikolog
Dr. Fina Hidayah, M.A
Kehidupan santri di pondok pesantren merupakan pengalaman pendidikan yang khas di Indonesia. Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kemandirian, spiritualitas, dan identitas sosial. Di tengah dinamika kehidupan di pesantren yang penuh disiplin, padat aktivitas, serta tuntutan akademik dan religius, kesejahteraan psikologis santri menjadi isu yang penting untuk dikaji secara mendalam.
Konsep kesejahteraan psikologis dalam buku ini merujuk pada teori yang dikembangkan oleh Carol D. Ryff, yang menekankan enam dimensi utama: penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi. Dalam konteks pesantren, keenam dimensi ini memiliki
karakteristik tersendiri karena dipengaruhi oleh budaya kolektif, nilai-nilai keislaman, relasi dengan kyai/ustadz, serta sistem kehidupan komunal yang berlangsung selama 24 jam.
Buku ini mengulas bagaimana pola hidup santri mulai dari adaptasi santri baru, relasi dengan teman sebaya dan pengasuh, tekanan akademik dan hafalan, hingga keterbatasan ruang privat dapat menjadi faktor protektif sekaligus faktor risiko bagi kesejahteraan psikologis mereka. Spiritualitas dan praktik ibadah rutin terbukti dapat memperkuat makna hidup dan resiliensi, namun di sisi lain, kejenuhan, tekanan emosional, dan minimnya waktu relaksasi dapat memengaruhi kondisi mental santri apabila tidak dikelola dengan baik.
Dengan pendekatan psikologi perkembangan dan psikologi positif, buku
ini menawarkan perspektif integratif antara nilai-nilai pesantren dan teori kesejahteraan. Disertai instrumen sederhana pengukuran kesejahteraan santri, lembar monitoring bagi guru/ustadz, buku ini diharapkan menjadi panduan praktis bagi pendidik, pengasuh, konselor, dan pengelola pesantren dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat secara psikologis.
Akhirnya, kesejahteraan psikologis santri bukan hanya tentang ketiadaan masalah, tetapi tentang kemampuan bertumbuh, menemukan makna, serta menjadi pribadi yang tangguh dan berdaya dalam bingkai nilai-nilai keislaman dan kebangsaan In